Jika kita menelusuri evolusi infrastruktur IT, perjalanannya bergerak dari Server Fisik, menuju Virtual Machine (VM), lalu mengecil menjadi Containerization (Docker/Kubernetes). Namun, inovasi mutakhir saat ini telah menghilangkan beban pengelolaan server itu sendiri dari pundak seorang administrator, melalui paradigma yang dikenal sebagai Serverless Computing.
Meskipun namanya "Serverless" (tanpa server), bukan berarti tidak ada perangkat keras yang digunakan. Istilah ini berarti bahwa pengembang dan tim IT infrastruktur tidak lagi perlu melakukan provisioning, mengelola sistem operasi, atau memonitor kapasitas server. Penyedia layanan cloud—seperti Amazon Web Services (AWS) dengan produknya AWS Lambda, atau Google Cloud Functions—mengambil alih seluruh manajemen di belakang layar. Anda hanya perlu mengunggah baris kode (misalnya skrip Python atau Node.js), dan layanan cloud akan mengeksekusi kode tersebut hanya ketika ada pemicu (trigger/event) yang memanggilnya.
Keunggulan absolut dari Serverless terletak pada model penagihan pay-as-you-go tingkat mikro. Pada VM atau container tradisional, perusahaan tetap harus membayar biaya komputasi selama server menyala, terlepas dari apakah ada trafik atau tidak. Pada arsitektur Serverless, Anda murni hanya membayar durasi komputasi per milidetik (millisecond) saat kode dieksekusi.
Jika aplikasi Anda tidak menerima trafik sama sekali pada jam 2 pagi, biaya infrastruktur pada jam tersebut adalah nol. Transisi menuju Serverless memungkinkan tim IT untuk berhenti mengkhawatirkan pemeliharaan sistem operasi dan 100% fokus pada penciptaan kode aplikasi yang bernilai bisnis.